Bagi perempuan, salah satu penyakit yang mengancam adalah kanker payudara. Namun, terkadang kanker tak bisa dihindari. Karenanya, langkah-langkah praktis dan tepat perlu diambil untuk mencegah dan mengobati kanker payudara, yang pada beberapa kasus tertentu bisa merenggut jiwa.

Rumah Sakit Awal Bros memiliki cara dini untuk mendeteksi kanker payudara melalui Mammografi. Pendeteksian dini kanker payudara sangat penting guna melakukan langkah-langkah pencegahan dan pengobatan. Mammografi sangat penting dan membantu perempuan supaya ancaman kanker payudara bisa diketahui terlebih dahulu.

Mammografi adalah proses pemeriksaan payudara manusia menggunakan sinar-X dosis rendah (umumnya berkisar 0,7 mSv). Mammografi digunakan untuk melihat beberapa tipe tumor dan kista, dan telah terbukti dapat mengurangi mortalitas akibat kanker payudara.

Diketahui kanker payudara  menjadi penyebab kematian 1-3% pada perempuan akibat kanker di seluruh dunia.  Namun sejak mammografi digunakan sebagai metode skrining, tingkat kematian akibat kanker payudara menurun cukup tajam sampai 20% dalam 10 tahun terakhir.  Karenanya sampai saat ini, mammografi dipandang sebagai skrining dasar yang penting untuk menekan keganasan kanker payudara di dunia.

Di Indonesia, kanker payudara merupakan kanker kedua tersering pada wanita setelah kanker serviks. Dengan angka kejadian  kanker payudara sekitar 100 per 100.000 jiwa per tahun, dan lebih dari 50% di antaranya ditemukan dalam stadium lanjut. “Mammografi penting dilakukan untuk menemukan  kasus kanker payudara dalam stadium dini. Mammografi merupakan salah satu upaya ini, di samping metode lain, yang sudah dikenal yakni SADARI (perikSA payuDAra sendiRI) dan pemeriksaan klinis oleh dokter,” kata Dr Wim Panggarbesi, SpB(K)Onk, dokter ahli bedah Awal Bros.

Mammografi sendiri sangat bermanfaat untuk menemukan lesi berukuran sangat kecil, sampai 2 mm, yang tidak teraba dalam pemeriksaan klinis (biasanya berukuran di bawah 1 cm).  Dengan program skrining diharapkan dilakukan pemeriksaan dasar mamografi setiap 2-3 tahun sekali pada perempuan berusia di atas 35-50 tahun, dan setiap satu tahun atau dua tahun pada wanita berusia di atas 50 tahun.

Pemeriksaan dasar ini akan memberikan data awal jaringan payudara wanita. Bila mammografi dilakukan secara rutin diharapkan jika ada perubahan sedikit saja dari jaringan payudara wanita akan dapat segera diketahui. Sayangnya, pola pikir seperti ini tidak dijumpai pada kaum perempuan umumnya. Hampir semua pasien yang datang dengan keluhan nyeri atau benjolan.  Rendahnya kesadaran memeriksakan diri ini tidak hanya saat ini, mammografi dipandang sebagai skrining dasar yang penting untuk menekan keganasan kanker payudara di dunia.

Namun demikian, jika dibandingkan dengan 10 tahun lalu, angka penemuan kanker payudara di Indonesia makin meningkat. Teknik pemeriksaan yang semakin baik dan penemuan alat baru, di antaranya mamografi, memang mempengaruhi angka ini. Namun peningkatan angka penemuan ini juga disebabkan meningkatnya faktor risiko kanker payudara itu sendiri.  Di antaranya faktor eksogen, seperti  pola hidup, pola makan, serta faktor endogen, yaitu genetik. Ini juga yang menjadi faktor mengapa setelah berbagai perkembangan dalam diagnosis dan terapi kanker payudara, angka kejadian kanker payudara di berbagai negara tetap tinggi.

Dari fakta di atas, mammografi rutin menjadi anjuran yang terus didengungkan di negara-negara tersebut. Dari data yang ada di berbagai rumah sakit, cukup banyak kasus kanker payudara yang terdeteksi melalui mammography. “Mammografi sangat bermanfaat, terutama pada kasus yang tumornya tidak teraba secara klinis,” kata Wim. Karenanya, jangan biarkan perempuan di dunia ini dibayang-bayangi ketakukan akan kanker payudara atau serviks. Kualitas kehidupan perempuan Indonesia juga  harus ditingkatkan.  Karenanya, mulailah dengan mengutamakan kesehatan, melalui upaya deteksi dini dan skrining.